Footnote

Kau akan tetap terselip di antara huruf-huruf dalam buku yang kubaca. Di antara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan di sela-sela sel darah yang menghidupkanku. Aku tetap percaya kepada kata, kepada huruf. Itulah yang menyebabkan adanya hubungan antara oasis dan bukit-bukit pasir itu.

(Trilogi Soekram-Sapardi Djoko Damono)

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang-benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.

(Novel Hujan Bulan Juni-Sapardi Djoko Damono)

Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita,

ke sana, Saudara, ke sana. Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat apa pun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana kemari terlempar ke atas menghunjam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak.

Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak.

(Pingkan Melipat Jarak-Sapardi Djoko Damono)