Canggung Paling Kami

Semoga kamu belum mati tertawa, sebab aku masih ingin tahu kamu tertawa untuk apa. Tapi aku suka caramu tertawa. Tertawamu adalah penawar luka yang kubutuhkan saat ini, 'pembual?' katamu, 'bukan' kataku. Berbeda denganmu yang sepenuhnya alhaq, aku hanya separuh batilmu saja, atau mungkin tiga per empatnya, atau mungkin seluruhnya, terserah. Aku cemas kalau nantinya kita … Lanjutkan membaca Canggung Paling Kami

Iklan

Pemuda Itu

"Kau sudah salat ?" Tanya pamannya selalu lewat SMS masuk yang diterimanya pagi itu, yang selalu menyuguhi cokelat hangat tiap berlebaran di rumahnya, yang buta huruf, yang khatam Alquran, yang tidak pernah lupa salat. Sepanjang yang diketahuinya. "Sudah, Pakdhe" Ia sebenarnya tidak mau berbohong, tapi lebih baik daripada harus mendengarkan nasihat berkepanjangan dari paman yang … Lanjutkan membaca Pemuda Itu