Pemuda Itu

“Kau sudah salat ?”

Tanya pamannya selalu lewat SMS masuk yang diterimanya pagi itu, yang selalu menyuguhi cokelat hangat tiap berlebaran di rumahnya, yang buta huruf, yang khatam Alquran, yang tidak pernah lupa salat. Sepanjang yang diketahuinya.

“Sudah, Pakdhe”

Ia sebenarnya tidak mau berbohong, tapi lebih baik daripada harus mendengarkan nasihat berkepanjangan dari paman yang sangat dicintainya itu.

Namun sahabat yang sekaligus kekasihnya itu, yang gingsul dan tak pernah menemukan titik balik dalam pengembaraan panjangnya, yang berjanji selalu memberikan bahunya sebagai tempat menumpahkan segalam kebimbangan sahabatnya itu, tidak tampak di jalan yang saat itu sedang lengang-lengangnya.

Ucapan terima kasih kepada jalan, meskipun tak pernah membawanya ke suatu tujuan yang jelas, meskipun ia belum salat, meskipun ia tak kunjung dipertemukan dengan sahabat yang sekaligus kekasihnya itu, meskipun ia sudah menengok kanan dan kiri.

Lengang.

“Kau sudah salat ?”

 

(Yogya, Juli 2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s