Panggil Saja Rangga

“Hai. Perkenalkan.

Saya Rangga, seekor kumbang badak yang terlahir untuk seekor kupu-kupu priamus.”

Kira – kira begitu kalimat pertamanya setiap bertemu orang baru. Oh iya, tentang nama ‘Rangga’, itu ibunya yang berikan. Entah ayahnya ikut andil atau tidak, saya tidak tahu menahu soal itu. Ia terlahir dalam sebuah situasi yang unik. Ketika itu mereka sedang bercumbu di bioskop pusat kota, entah bagaimana cara mereka melakukannya, saya juga tidak tahu menahu soal itu. Tiba-tiba munculah nama Rangga. Begitu ungkapnya setiap kali bercerita mengenai asal usul nama ‘Rangga’. Nama yang selalu dianggapnya sebagai nama yang unik – berbeda dengan kumbang pada umumnya. Nama yang kadang suka dicap jelek oleh rekan-rekannya sebagai nama yang aneh, tidak pantas diberikan kepada seekor kumbang.

Dingin, bisiknya entah kepada siapa. Hujan sore ini memang cukup deras, langit sedang giat untuk melepaskan jeritan-jeritan jiwanya, sedangkan hangat hanya berkumpul di lapisan teratas atmosfer, enggan untuk menggangu, lalu dingin tercipta. Konon begitu awal mula terbentuknya bongkahan-bongkahan es di daerah kutub, langit di kutub tidak ingin diganggu oleh siapapun, ia terus saja mengucurkan bulir-bulirnya, mengerang atas jeritnya, bahkan untuk waktu yang sangat-sangat lama.

Buku catatan itu selalu punya waktu yang intens hanya untuk berdua dengan Rangga. Boleh dibilang Rangga rajin menceritakan apa saja di dalam buku itu. Termasuk sore ini, ketika teh buatan ibu juga ikut menemani Rangga bercerita. “Cerpenmu selalu saja punya daya tarik”, kalimat itu selalu diucapkan pimpinan redaktur koran Aksara Koembang setiap kali Rangga mengirim hasil karyanya. Tulisan Rangga bisa dibilang menjadi salah satu pengisi tetap media cetak itu. Tidak hanya cerpen, puisinya juga selalu menjadi favorit pimpinan redaksi.

Rangga memang pandai menulis, kepandaian nya menulis diturukan dari ayahnya yang merupakan seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi. Berbeda dengan Yudha, kakak semata wayang – yang selalu berselisih paham dengannya. Yudha adalah seorang prajurit, setiap hari bertugas mengawasi nyamuk, si biangkerok dari setiap masalah yang muncul di kota. Setelah masa pelatihan, Yudha berubah menjadi pribadi yang berwatak keras dan mudah emosi. Sejak itu Rangga tidak menyukai kakaknya, dan sejak itu pula, ia mengubah kriteria utama tentang ‘calon’-nya nanti, nyari betina yang gak gampang naik pitam, begitu prinsipnya. Selain buruk untuknya, hal itu juga buruk untuk masa depan anaknya nanti. Dan Ratih bukan betina semacam itu.

“Jadi menemaniku mecari nektar hari ini ?”,

Tidak dijawabnya pertanyaan itu. Rangga menggeser kursinya mepet ke meja, meletakan kedua sikunya agar bisa menyangga dagunya, seraya menatap Ratih. Mata majemuk nya berusaha menatap dalam-dalam 12000 mata Ratih yang selalu dibayangkannya sebagai sebuah oase, sebuah surga di tengah gurun, sebuah surga, surga. Tatapan itu hampir mengantar jiwanya masuk ke ruang yang lain, ruang dimana hanya ada ia dan Ratih.

Seketika pasir gurun itu  terbang ke matanya, ia kaget, mengedipkan mata, lalu sadar.

“Ihh, kenapa menatapku seperti itu ?”

Sayapnya semakin terang dan berwarna, mengepak 15 kali. Dia senang tatapan semacam itu.

Sekian dulu. Titik dua kurung tutup

.

Yogyakarta, April 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s