Monjali

Selamat malam, selamat berbahagia.

Kamis, 30 Maret 2017. Hari dimana saya pertama kali-nya ‘berwisata’ di Yogya, setelah hampir 3 bulan tidak bercengkerama dengan keindahan kota budaya ini. Kegiatan perkuliahan dan praktikum senantiasa hadir di setiap minggunya. Satu hari sebelumnya, kami – satu angkatan – mendapat  tugas mata kuliah Pancasila, mengharuskan untuk berkunjung ke salah satu museum yang bersejarah di kota Yogya. Ya, monjali.  Kami diminta melihat fenomena sejarah yang ada disana, dan membuat tulisan tentang relevansi keadaan Indonesia sekarang dengan potret sejarah masa lalu yang saya dapatkan ketika mengunjungi museum tersebut.

P_20170330_110842_1_BF_p - Copy
Kami

Sekitar jam 10, kami berangkat menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari Fakultas MIPA di Jl. Persatuan. Saya pergi bersama 4 rekan saya waktu itu. Sampai disana saya perhatikan tidak banyak pengunjung yang datang, ramai pun karena waktu itu ada rombongan study tour anak SMA. Wisatawan lokal bisa dibilang sangat jarang, atau mungkin hari biasa atau mungkin bosan berlibur dalam kota, entah saya tak tahu menahu soal itu.

Haga tiket cukup terjangkau, 10 ribu, ditambah ongkos parkir 2 ribu, dan pajak mengambil gambar 1 ribu (kalau gak beli takut kena pungli katanya).

Masuk, kami sudah disuguhi pemadangan yang cukup unik. Bangunan kerucut, 3 tingkatan, dikelilingi kolam-kolam, ikan dalam kolam, kolam dengan ikan, banyak. Hehehe. Langsung salah satu dari kita berinisiatif untuk berfoto – mengingat itu juga termasuk syarat tugas. Setelah mengambil gambar, langsung berkeliling. Ini benar-benar liburanku yang pertama 3 bulan terakhir setelah malioboro (lagi).

Senang bukan main, siap dengan wajah ceria. Dengan harapan menambah wawasan, pengetahuan, dan mungkin kenalan – oleh sebab ada study tour anak SMA. Kami masuk ke lantai 2, lurus tepat dari jalan pintu masuk. “Ke arah sana dek” kata salah seorang petugas disana, saya heran bukan main, kenapa kita berempat dipanggil ‘dek’.

Saya akui, arsitektur nya luar biasa. Lantai dengan motif klasik, kotak-kotak kecil berbentuk persegi panjang yang tertata rapih, tembok dan tiang penyangga yang masih kokoh, model masih sangat klasik dan mewah. Lantai 2 terdiri dari diorama, pengunjung diajak berkeliling bangunan, dengan masing-masing diorama menggambarkan suatu peristiwa penting  di Jogja. Saya sempat berfoto ria di diorama yang pertama, wajar, ada bapak Jend. Sudirman, inspirasi saya. Saya tidak begitu mendengar dengan jelas rekaman audio yang dikeluarkan dari masing-masing diorama yang saya kunjungi. Mungkin karena sudah lama, usang dan lupa diganti. Tapi tulisan di bawah diorama, memberi pengunjung sedikit cerita yang berhubungan dengan gambar. Itu cukup memberi banyak informasi. Mulai dari perang senjata di bantul, polemik supersemar, lobi antara Sri Sultan Hamengkubuwono dan para kompeni, sampai perbincangan Soekarno dan Jend. Soedirman yang baru saja pulang dari gerilya perang.

P_20170330_112533_BF
Jend. Soedirman dan Soekarno

Tidak terasa, kita benar benar diajak berkeliling, tapi tidak terasa berkeliling, got it ? Diorama-diorama itu membuat saya ‘anteng’ menghayatinya, meskipun tidak serta merta saya mengerti secara detail mengenai peristiwa peperagan yang terjadi saat itu. Ketika hendak ingin keluar, petugas itu – yang tadi memanggil kami ‘dek’, mengajak kami untuk tidak keluar dulu, melainkan ke lantai 3. Kami mengiyahkan.

Di lantai 3 ternyata tidak ada apa-apa, hanya ada ruangan kosong, cukup luas, di dinding-dindingnya ada ornamen berbentuk kepalan tangan yang cukup besar, diberi lampu agar di tepi-nya agar ornamen itu terlihat. “Ini tempat untuk mendoakan arwah pahlawan” kata petugas itu.

P_20170330_114312_BF
Quotes dari Jend. Soedirman

Usai berdoa, kami melanjutkan perjalan kami ke lantai dasar, tapi harus memutar terlebih dahulu. Karena akses jalan ke lantai dasar tidak dibuka. Cuaca cukup terik siang itu, panas. Sampai di lantai dasar, saya pikir ini benar-benar museum. Banyak sekali benda-benda, patung, foto dan beberapa diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat indonesia (khususnya di jojga) dalam mengusir penjajahan belanda kala itu.

Lantai dasar terdiri dari banyak museum-museum, banyak sekali, tak sempat saya hitung, karena terlalu ‘anteng’, faktor jarang liburan dan disibukkan dengan berbagai kegiatan perkuliahan dan praktikum sana sini. Mesin tik klasik, mesin percetakan klasik, piring klasik, diorama dapur klasik, kasur Soekarno ketika ibukota pindah ke Yogyakarta, replika pinisi, senjata perang, bambu runcing, bahkan kalau tidak salah helm Jend. Soeprapto yang berlubang tertembus peluru pun masih tersimpan dengan baik, semua terawat.

P_20170330_113952_BF
Suasana Demonstrasi Rakyat Pasundan di Yogyakarta

Museum – museum itu terletak di sisi, di tengah terdapat ruang khusus pertemuan, seperti ruang sidang atau apalah. Juga masih ada perpustakan, dengan pustaka-pustaka lama, pustaka 50 tahun sebelum indonesia merdeka. Semua masih terawat. Bahkan ada toko souvernir di dekat perpustakaan, mba-mba nya masih terawat juga. Luar biasa, kagum saya.

Selain bertemu rombongan anak SMA yang sedang study tour – pergi sewaktu kami di lantai dasar, kami juga bertemu teman-teman seangkatan. Perasaan kami, biasa aja, namanya juga tugas untuk 70-an anak, wajar kalau bertemu dalam waktu yang bersamaan.

Usai dari lantai dasar, kami pulang, setelah sebelumnya saya baru sadar bahwa nama daerah ‘Monjali’, itu merupakan akronim dari Monumen Jogja Kembali, sama halnya dengan ‘Jakal’ (Jalan Kaliurang).

Beberapa hari setelahnya, saya mencoba mengerjakan tugas membuat tulisan tentang kegiatan saya ini, intinya kurang lebih seperti ini :

Secara umum Monumen ini didirikan untuk mengenang dan melestarikan warisan sejarah, perjuangan-perjuangan rakyat Indonesia – khususnya Yogya, dan juga sebagai penghormatan kepada pahlawan-pahlawan yang gugur di masa peperangan. Jika dihubungkan dengan konteks keindonesiaan sekarang, makna yang bisa diangkat tidak lain adalah perjuangan para rakyat Indonesia untuk keluar dari jeratan imperialisme asing, mereka ingin keluar dari belenggu itu. Sudah seharusnya kita menerima hak – hak kita sebagai bangsa yang utuh, sebagai manusia yang mampu bebas dari setiap pihak yang berusaha mengekang dan mengendalikan banga kita. Para pejuang kita terdahulu memilik semangat juang dan etos yang tinggi, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa mereka sendiri asalkan bangsa ini bebas dari jeratan penjajah.
Sudah seharusnya generasi muda kita bercermin kepada mereka, para pelopor kemerdekaan, para pejuang, tapi apakah mungkin ? Mengingat para muda-mudi bangsa yang akhir – akhir ini cenderung apatis terhadap sejarah bangsanya sendiri. Padahal, kejadian yang terjadi di masa lampau itu, bisa menjadi dasar dan cerminan bagi kita, apabila nantinya ada pihak asing yang mencoba mengintervensi dan berusaha menghancurkan keutuhan negara kita. Dasar yang kuat akan menguatkan kita dari goncangan apapun, dari usaha-usaha diintegrasi dari bangsa asing, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Untuk membentuk dasar yang kuat, diperlukan kencintaan terhadap bangsa kita sendiri, salah satunya dengan cara mengetahui dan memahami peristiwa-peristiwa sejarah. Monumen ini bisa dijadikan sebuah refleksi bagi para generasi muda untuk memahami sejarah bangsanya, untuk mampu menanamkan nilai-nilai positif yang dimiliki oleh para pejuang kita terdahulu. Niscaya, kita bisa menjadi penerus bangsa yang berkualitas dan kokoh, serta mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Semoga.  

Bagi petugas di sana, mungkin berjaga berhari-hari di tempat yang sama, terasa membosankan. Tapi bagi anak remaja yang jarang liburan ini, berwisata mengunjungi museum atau monumen ini, bisa menjadi pengalaman masa muda saya, kawula muda saya, yang akan saya kenang tua nanti, saat gigi sudah tinggal dua, saat kaki tidak cukup kuat untuk sekedar menanggung raga, saat cucu nanti bertanya “Kek, Museum Jogja Kembali itu kayak gimana?”, kuceritakan semuanya nanti.

Terimakasih 4 temanku, terimakasih pak dosen, terima kasih petugas yang memanggil ‘dek’.

Terima Kasih Monjali

P_20170330_110608_BF - Copy
Kawula Muda

.

Iklan

2 tanggapan untuk “Monjali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s